KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA PIMPINAN DAN JAMAAH DALAM RANGKA MENDALAMI AJARAN ISLAM MENURUT PEMAHAMAN SYATHARIYAH : STUDI PADA JAMA’AH SYATHARIAH KOTO TUO KABUPATEN AGAM


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
            Sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tetapi saling berhubungan satu sama lainnya. Karena itu, dengan berbagai potensi yang dimilikinya manusia terus-menerus mengeksploitasi lingkungan alamiah dan sosial untuk mempertahankan dan meningkatkan kehidupannya. Hal ini dapat terlihat pada perkembangan evolusi peradaban manusia itu sendiri, sebagaimana digambarkan Morgan (dalam Koentjoningrat, 1980) yang dimulai dari masa nomaden, bertani menetap, dan pada akhirnya masa industri tidaklah pernah terlepas dari pengaruh komunikasi interpersonal di antara para pelaku peradaban sendiri. Hal tersebut terus berlanjut sampai pada tahapan yang disebut oleh Alvin Tovler (1990) sebagai era globalisasi informasi, di mana dengan pembaharuan terus-menerus di bidang  teknologi yang telah dijadikan sebagai sumber/pusat dari seluruh informasi yang dibutuhkan. Di mana komunikasi interpersonal berlangsung dengan tatap muka (face to face)/ terjadinya kontak pribadi komunikasi menyentuh pribadi komunikan seketika komunikator menyampaikan pesan, umpan balik berlangsung seketika, komunikator dapat mengetahui pada saat itu tanggapan komunikan terhadap pesan yang dilontarkan, ekspresi wajah dan gaya bicara komunikator. 

            Salah satu kebutuhan yang dimiliki manusia adalah kebutuhan untuk berkomunikasi dengan individu lain. Hal ini berlangsung dari manusia itu dilahirkan, dewasa dan akhirnya meninggal dunia. Secara keseluruhan tidak pernah terlepas dari namanya komunikasi. Hal itulah yang mendasari bahwa komunikasi tidak bisa dilepas dari kehidupan manusia. Selanjutnya komunikasi interpersonal tersebut akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh hubungan sosial dapat berbentuk hubungan asosiatif maupun diasosiatif. Bentuk-bentuk hubungan sosial yang bersifat asosiatif seperti kerjasama, tolong-menolong dengan sendirinya mempengaruhi bentuk-bentuk komunikasi interpersonal yang terjadi, demikian halnya juga dengan bentuk hubungan sosial yang disasosiatif berupa konflik, pertikaian dan pertentangan akan mempengaruhi bentuk-bentuk komunikasi interpersonal.
            Selanjutnya, komunikasi interpersonal merupakan proses pertukaran informasi di antara dengan paling kurang satu orang dengan lainnya atau di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Dengan bertambahnya orang yang terlibat dalam komunikasi sehingga bertambah komplekslah komunikasi. Komunikasi interpersonal membentuk hubungan dengan yang lain. Hubungan komunikasi interpersonal dapat diklarifikasikan dalam beberapa cara seperti, dialog, wawancara, percakapan dan komunikasi tatap muka. Redding mengembangkan klasifikasi komunikasi interpersonal menjadi interaksi intim, percakapan sosial, introgasi atau pemeriksaan dan wawancara[1].
            Sehubungan dengan hal tersebut di atas, sistem komunikasi interpersonal juga telihat pada jama’ah Satariah Koto Tuo Kabupaten Agam, yakni komunikasi langsung dan terbuka. Hanya saja dalam pelaksanaan komunikasi interpersonal antara pimpinan dan para jama’ah masih terdapat beberapa permasalahan. Permasalahan tersebut muncul karena keanggotaan dari jama’ah Satariah berasal dari berbagai kalangan dan strata sosial, pendidikan dan dengan latar belakang yang berbeda-beda, sehingga mempengaruhi bentuk-bentuk komunikasi interpersonal di antara pimpinan dan jama’ah. Jika komunikasi interpersonal  antara pimpinan dan jama’ah berjalan dengan baik maka semuanya juga akan berjalan dengan baik karena komunikasi adalah akar cikal bakal lahirnya sebuah permasalahan.
            Bertitik tolak dari permasalahan di atas, penulis tertarik untuk meneliti dan melihat sampai sejauh mana komunikasi interpersonal antara pimpinan dan jama’ah Satariah dengan membuat sebuah karya ilmiah yang berbentuk skripsi dengan judul “Komunikasi Interpersonal Antara Pimpinan dan Jamaah dalam Rangka Mendalami Ajaran Islam Manurut Pemahaman Syathariyah : Studi Pada Jamaah Syathariyah Koto Tuo Kabupaten Agam”
1.2 Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
  1. Bagaimana pelaksanaan komunikasi interpersonal antara pimpinan dengan jama’ah dalam mendalami ajaran Islam menurut pemahaman jamaah Satariah Koto Tuo Kabupaten Agam?
  2. Hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan komunikasi interpersonal antara pimpinan dengan jama’ah dalam mendalami ajaran Islam menurut pemahaman jamaah Satariah Koto Tuo Kabupaten Agam?
  3. Upaya-upaya apa saja yang dilakukan dalam rangka menciptakan terjalinnya komunikasi interpersonal yang baik di antara antara pimpinan dengan jama’ah dalam mendalami ajaran Islam menurut pemahaman jamaah Satariah Koto Tuo Kabupaten Agam?
1.3 Tujuan Penelitian
            Tujuan dari penelitian ini tidaklah terlepas dari rumusan masalah di atas, yakni sebagai berikut:
  1. Untuk menggambarkan bagaimana pelaksanaan komunikasi interpersonal antara pimpinan dengan jama’ah dalam mendalami ajaran Islam menurut pemahaman jamaah Syathariah Koto Tuo Kabupaten Agam.
  2. Untuk menggambarkan hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan komunikasi interpersonal antara pimpinan dengan jama’ah dalam mendalami ajaran Islam menurut pemahaman jamaah Satariah Koto Tuo Kabupaten Agam.
  3. Untuk menggambarkan upaya-upaya apa saja yang dilakukan dalam rangka menciptakan terjalinnya komunikasi interpersonal yang baik di antara pimpinan dengan jama’ah dalam mendalami ajaran Islam menurut pemahaman jamaah Satariah Koto Tuo Kabupaten Agam.
1.4 Kegunaan Penelitian
1.4.1 Kegunaan Teoritis
  1. Diharapkan hasil penelitian ini secara teoritis bermanfaat bagi pengembangan ilmu komunikasi umumnya, dan komunikasi interpersonal khususnya.
  2. Diharapkan hasil penelitian ini secara teoritis bermanfaat bagi peneliti-peneliti lain untuk meneliti hal-hal yang hamper bersamaan atau penelitian lanjutan.
1.4.2 Kegunaan Praktis
  1. Diharapkan hasil penelitian ini secara praktis bermanfaat bagi pimpinan dan jamaah Syathariyah guna mengevaluasi komunikasi interpersonal yang pernah dilakukan dalam mendalami ajaran Islam menurut pemahaman Syathariyah.
  2. Diharapkan hasil penelitian ini secara praktis bermanfaat bagi jamaah-jamaah lain di luar jamaah Syathariyah sebagai bahan masukan dan perbandingan.



     [1] Muhammad Arni, Komunikasi Organisasi, Jakarta, Bumi Aksara, 2000, hlm. 159.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar